Di Masa Pandemi Covid-19, 3 Komoditas Pertanian Flores Catat Eskalasi Signifikan

Ende – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Flores mencapai capaian eskalasi yang signifikan pada 3 komoditas pertanian unggulan pulau Flores, masing-masing mede biji, cengkeh, dan kelapa bulat.

Terlebih dimasa pandemi Covid-19 sejak awal tahun yang hampir melumpuhkan berbagai sektor, tentunya capaian ini patut diapresiasi.

“Hal ini sejalan dengan ajakan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) yang terus seluruh insan pertanian bekerja. Tidak boleh berhenti, karena ada tanggungjawab besar dipundak kita yakni ketersediaan pangan,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) melalui keterangan tertulisnya (28/5/2020).

Menurut Jamil, berdasarkan data lalu lintas komoditas pertanian yang dcatat oleh unit kerjanya di Ende,  permohonan pemeriksaan karantina terhadap 3 komoditas  tersebut meningkat di kuartal I tahun 2020.

Tercatat masing-masing mede biji sebanyak 349 ton dengan frekwensi 16%, cengkeh 101 ton dengan frekwensi 74% dan Kelapa bulat sebanyak 394 ton dengan frekwensi 155 kali. Adapun eskalasi atau peningkatan masing-masing adah 203%, 74% dan 61% dibanding periode yang sama di tahun 2019. Menandakan pembangunan pertanian diwilayah ini sudah “on the track”, dibuktikan dengan peningkatan yang signifikan, tambah Jamil.

Perkuat Sinergisitas

Ke-3 komoditas unggulan asal Flores ini telah mampu mencukupi kebutuhannya sekaligus memasok ke beberapa kota lain.  Industri hilirpun telah tumbuh, sehingga komoditas sudah dapat dilalulintaskan dalam bentuk setengah jadi bahkan jadi.

“Nilai tambah tidak hanya dirasakan petani, tapi juga berdampak pada masyarakat dengan adanya ketersediaan lapangan kerja,” kata Yulius Umbu, Kepala Karantina Pertanian Ende.

Mede biji Flores ini bentuknya lebih bulat berwarna putih. Kontur tanah yang unik dan cara pengolahan organik membuat kualitas dan cita rasa kacang mede menjadi berbeda dari daerah lain. “Keunikan ini yang menbuat mede biji kita laris di Amerika Serikat dan Vietnam,” jelas Yulius. 

Demikian juga untuk cengkeh, tidak hanga bunganya yang laris, namun juga gagangnya diminati pasar ekspor. Penggunaannya selain untuk campuran rokok kretek juga digunakan untuk campuran kosmetik, obat-obatan, olahan bahan pangan. Tercatat 5 negara tertinggi pengimpor cengkeh Flores ini masing-masing India, Singapura, Pakistan, Vietnam, dan Saudi Arabia, tambahnya lagi.

Walaupun saat ini eksportasinya masih melalui Surabaya dan Makassar dikarenakan belum adanya transportasi kapal ekspor langsung atau direct call dari Ende.

Sebagai komoditas sub sektor perkebunan yang banyak tumbuh di  Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, mendapat dukungan penuh bagi pengembangannya oleh Menteri Pertanian.

Untuk itu, melalui gerakan tigakali lipat ekspor (Gratieks) produk pertanian melakukan peningkatan sinergisitas. Berbagai bimbingan teknis pemenuhan persyaratan teknis negara tujuan ekspor diberikan kepada kelompok tani sekaligus mengkampayekan berani ekspor bagi pelaku usaha tani muda.

“Flores dan Lembata menyimpan begitu banyak potensi, saatnya seluruh entitas pertanian di Ende perkuat kerjasama untuk hasil panen optimal. Selain untuk kemandirian pangan, pasar ekspor juga terbuka lebar,” tutup Yulius. (R/Sl/Kpt)