Peran Keterlibatan Orang Tua Sebagai Pengawas Dan Pendamping Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid-19

Toni Fauzi Guru Produktif di SMK Darul Mawa

Lampung РPembelajaran online  menjadi sebuah pilihan bagi institusi pendidikan di tengah pandemi Covid-19, metode pembelajaran ini dapat menjadi terobosan solusi agar proses belajar mengajar dapat tetap berlangsung. Masa darurat pandemi covid-19 mengharuskan sistem pembelajaran diganti dengan pembelajaran daring agar proses pembelajaran tetap berlangsung. Guru tetap bisa melakukan mengajar dan peserta didik tetap bisa melaksanakan belajar di rumah selama pandemi. Pembelajaran online identik dengan pemanfaatan fitur teknologi berbasis internet, yang sangat bergantung pada ketersediaan teknologi informasi. Pembelajaran online/daring merupakan sistem pembelajaran antara guru dan siswa namun menggunakan plat form atau aplikasi digital dengan menggunakan jaringan internet, seperti whatsapp, telegram, zoom meeting, google meet, google classroom, quiepper school, ruang guru dan aplikasi lainnya. Guru dan siswa melakukan pembelajaran bersama, dalam kurun waktu yang sama, walaupun di tempat yang berbeda.

Dalam proses kegiatannya pembelajaran daring/online memiliki problematika yang di rasakan sejumlah guru di sekolah. Pembelajaran daring sering di rasa kurang efektif apabila dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka langsung, yaitu: keterbatasan guru dalam melakukan kontrol saat berlangsungnya pembelajaran daring. Guru tidak bisa mengontrol para siswa secara menyeluruh, terlebih lagi saat pembelajaran menggunakan vidio conference, para siswa lebih memilih untuk off kamera, dan ketika guru menanyakan mengenai kehadiran atau diskusi mengenai materi pelajaran, para siswa terkadang terlambat untuk merespon. Guru tidak bisa melihat sikap semua peserta didik saat mengikuti pembelajaran. Peserta didik sering pergi untuk melakukan aktivitas lain di luar pembelajaran. Namun, tidak semua siswa sebagian peserta didik juga aktif hingga pembelajaran selesai, dan ada juga yang aktif tetapi tidak full sampai pembelajaran berakhir.

Dari faktor peserta didik dalam pembelajaran daring, ditemukan permasalahan peserta didik yang tidak aktif dalam pembelajaran, yaitu: Pertama, peserta didik kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran daring meskipun mereka didukung dengan fasilitas yang cukup memadai dari segi ketersediaan perangkat komputer, smartphone, dan jaringan internet. Kurangnya kepedulian akan pentingnya literasi dan pengumpulan tugas portofolio, sering menghambat jalannya Belajar Dari Rumah (BDR). Tugas yang seharusnya dapat dikumpulkan dalam tenggang waktu satu minggu sering molor beberapa hari. Kedua, peserta didik tidak memiliki perangkat handphone yang digunakan sebagai media belajaran daring, sebagian masih bersama orangtua mereka, dan sebagaian siswa santri pada pondok pesantrean di batasi penggunaan handphone. Jika pembelajar daring, mereka harus bergantian menggunakannya dengan orangtua, dan bagi siswa santri mendapat giliran sampai waktu tertentu, bahkan waktunya sampai sore hari sampai malam hari. Semetara umumnya jadwal pembelajaran daring di sekolah dilakukan dimulai pagi hari hingga siang hari. Ketiga, sejumlah peserta didik bertempat tinggal pada wilayah yang minim akses internet. Mereka tidak dapat menerima tugas yang disampaikan oleh guru baik melalui whatsapp atau kelas online. Keempat, menurut beberapa peserta didik, terlalu lama belajar di rumah (BDR) membuat mereka malas dan membosankan.

Dalam penerapan pembelajaran daring, peran guru dan orangtua tidak bisa tergantikan dengan teknologi yang unggul canggihnya. Penggunaan teknologi di bidang pendidikan hanya sebatas mampu membantu guru dalam transfer of knowledge, bukan pada pembentukan karakter peserta didik. Teknologi tidak bisa menggantikan peran posisi guru dan orangtua, walaupun akan ada robot, tetapi hanya sekedar mengajar bukan mendidik. Tugas mendidik ini hanya bisa dilakukan seorang guru secara langsung dan pendampingan orangtua.

Solusi dari permasalahan guru adalah kolaborasi dari orang tua sebagai pengawas dan pendamping pembelajaran yakni dengan melakukan komunikasi (melaui panggilan telpon/whatsapp) dengan para orangtua untuk meluangkan waktu untuk anak mereka dalam belajar, meluangkan segera kembali ke rumah dari tempat kerja atau berkomunikasi dengan orang yang ada dirumah agar senantiasa kegiatan anak dalam belajar daring terpantau dengan baik;

Orangtua memberi kelonggaran waktu untuk menginformasikan kemajuan belajar peserta didik melalui whatsapp grup kumpulan orang tua siswa sehingga diharapkan mampu memotivasi dan mendampingi anaknya yang kurang memperhatikan tugas dari guru;

Orangtua berperan aktif untuk meningkatkan kepedulian terhadap proses pembelajaran, apabila siswa kurang aktif orangtua dapat meminta bantuan kepada guru BK untuk memotivasi peserta didik dalam belajar.

Setiap permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan menghadirkan beragam solusi dari para guru dan orangtua sehingga pembelajaran di masa pandemi covid- 19 tetap berlangsung, yang terpenting siswa tetap belajar dan terus belajar meskipun BDR. Sebab pelaksanaan BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi siswa.

Pada prinsipnya, pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh di masa pandemi dan masa peralihan kebiasaan baru memberikan pengalaman belajar yang bermakna dengan menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi kondisi dan materi, dan fokus pada pendidikan kecakapan hidup. (Red)